Cari Blog Ini

Laman

Sabtu, 26 Februari 2011

Lanjutan si Cerita Panjang

Manis
Aku tak menyangka kamu harus begitu membenciku
Agak miris melihatmu penuh dendam seperti itu
Ada sesuatu yang manis yang harus kamu lihat sore ini
Kubelikan kamu sebatang permen coklat kesukaanmu
Harapanku; kamu tidak lagi bersedih dan lupakan kejadian itu
Harapanku; bahagia akan segera menghampirimu ketika kamu menggigitnya
Harapanku; kamu akan menjadi dewasa kembali setelah kau lumatkan makanan itu di lidahmu
Aku tak berharap banyak, segini saja sudah cukup menghiburku
Kamu yang kulihat sekarang adalah kamu yang lain
Bengis, brutal, busuk, brengsek

Tapi sadarilah, Tuhan pasti tahu kamu ingin apa
Dan langit akan menghantammu ketika mereka melihatku tergeletak
Tak bernyawa seperti pacarmu yang sekarang tinggal di dalam tanah itu
Membusuk bersama para hewan dan siksa yang menyiksanya
Dia itu menyakitimu dan kamu tak mau melepaskannya
Apakah itu caramu mengenangnya
Hanya dalam kesedihankah kamu harus memikulnya
Berbuat baikkah dia kepadamu?
Tidak ada yang lebih manis daripada dunia ini
Pahami baik-baik perkataannya
Kesenangan dunia akan tercabut setelah kamu menjadi dirinya


Mengingatnya Lagi

Keluar setelah matahari terbenam sore ini
Kamu sejenak melupakannya setelah kamu ingat kamu satu tahun yang lalu,
Melihatnya terbaring kaku di jalan ini
Kamu akan berusaha mengingat kepergiannya
Padahal dia tak sedang bersamamu
Aku hanyalah temanmu yang siap mengarungi deburan ombak laut tinggi
Cuma aku, sadarilah

Bersedihlah terus dengan caramu
Kalau obat yang kuberikan tadi tak mencerahkan wajahmu, buanglah
Kamu bisa membelinya sebanyak yang kamu mau
Kamu makan apapun yang kamu mau
Uangku tak banyak
Tak seperti pacarmu yang punya pohon uang di pekarangannya
Dijaga ketat oleh penjaga kuburan si kakek tuanya

Kuceritakan kronologi perlahan-lahan agar kamu mengingatnya lebih jauh
Aku terbiasa dengan marahmu yang membuatku memar-memar
Tapi kumohon kali ini untuk tidak marah kali ini
Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu, sesuatu yang biasa kamu lakukan di taman ini
Memandangi bunga-bunga layu yang basah terkena hujan
Coba pandangi dengan baik dan maknai dengan hatimu
Dia terbiasa menjadi pusat perhatian orang, indah dan menarik
Tapi kalau layu seperti itu akankah orang mau melihatnya?
Kau lakukan ini selama kau mengenalku
Hilang ditelan penyakitmu yang menghapus semua memori indahmu
Dan yang kutahu, tak heran, kamu menggila seperti ini
Bunga layu kau perhatikan saja bisa menghiburmu yang sedang jatuh dalam jurang
Lantas kamu memikirkannya mengapa begitu
Aku sudah lelah mengajakmu menjadi orang baik
Tapi kalau kau kutinggalkan akankah kamu menjadi lebih baik?
Tuhan yang tahu


Tamat Sudah
Setelah kubaca buku harianmu pagi ini
Kamu akan membunuh dirimu dalam ketenangan
Zat beracun nan mematikan telah kau dapatkan, telah kau siapkan
Menjelang ajal yang kau adakan sendiri meskipun belum waktumu untuk itu
Walaupun begitu, aku akan mencegahmu melakukan itu
Hiduplah dengan normal dan jalani hidup ini hingga tua nanti

Wajah cantikmu akan menjadi daya tarik bagi lelaki lain di dunia ini
Biar kutebak, pasti dia lelaki normal yang baru tumbuh dewasa
Atau lelaki hidung belang yang menghancurkanmu sampai kamu rapuh seperti ini?
Semoga saja tidak, karena aku takkan bisa mengisi harimu yang indah sampai tua nanti
Cerita hidupku sama sepertimu, cerita yang tak perlu banyak orang tahu
Cerita yang hanya akan membuatku larut dalam romantisme hidup
Kembali menjadi malas, tak bekerja dan tak tahu arah

BERSAMBUNG...

Senin, 21 Februari 2011

Sebuah Cerita Panjang

"sebuah cerita panjang yang hanya penulisnya saja yang tahu..."


Cerita Panjang

Aku menundukkan kepala seraya berkata “ah, sudahlah.”

Di hadapanku tadi ada tubuh seseorang yang kukenal terdiam kaku dan membisu

Dia tidak bernyawa lagi dan sepertinya memang telah mati

Tapi kurasakan jiwanya masih disekitar sini

Tak mau kusesali lagi, mungkin bukan aku yang melakukannya, aku yakin sekali itu

Kututup semua yang kutahu, tetapi tidak pada satu hal

Kamu.


Benci

Aku duduk termenung di sudut ruangan

Hanya ada aku, dia dan kursi empuk saja

Tembok yang mengelilingi hanya bisa melihat kita berdua yang terdiam sejak berjam-jam yang lalu

Diam yang sangat panjang dan melelahkan

Sungguh, ingin mati saja rasanya kalau begini

Kamu tak bicara sepatah kata juga dari tadi

Aku tak punya waktu yang banyak, tapi punya cinta

Meskipun bukan buat kamu saja, tapi orang lain

Aku tahu kamu ingin membuang semua yang ada di benakmu tentang rasamu itu

Tapi kamu, coba lihat, apa kamu tidak sadar atas perintahnya kemarin;

“jangan kau buat aku susah mati, ya.”

Kamu punya kebencian mendalam padaku

Lantas apakah aku harus ditahan disini bersama amarahmu yang besar itu?

Munafik, kamu sungguh munafik dan pengecut

Pikirku, kamu akan ambil pisau di ruangan sebelah dan akan kau robek perutku dan keluarkan isinya

Sudah kutunggu daritadi dan kau urunkan niatmu

Buat apa mendendam ketika kamu tidak melakukan suatu tindakan yang dapat melepaskannya

Yang membelenggu layaknya penyakit hati manusia

Ayolah, aku ini orang yang akan kaubunuh sekarang juga

Ambil pisau itu dan lakukan dengan perlahan sayang

Yang kuyakini itu tidak akan menyakitiku karena pasti kau lakukan dengan cinta

Kalau kau rasa percuma, ya tinggalkan saja

Dan hiduplah damai dengan ketenangan yang ditawarkan dunia busuk ini


Salahmu

Aku tahu, peristiwa itu bukan aku yang melakukannya

Kamu juga menyadarinya dan melihat dengan matamu sendiri

Sumpah pada Tuhan hanya menjadi bualan di matamu nantinya, bahkan setelah kukatakan padamu

Izinkan aku keluar dan lari sekencang-kencangnya kabur dari hadapanmu

Aku tiada kuasa untuk mematikannya jika harus bersaing dengannya

Pasti ada orang lain, orang yang bukan diriku

Menaruh kebencian padanya hingga berujung cerita panjang seperti ini

Kamu yang bersalah menelantarkan dia seperti gembel yang mengais makanan di bak sampah

Padahal bukan makanan, tetapi cintamu untuknya

Pahami itu sebelum kamu yang disalahkan orang nanti


Bersambung...

Jumat, 18 Februari 2011

Persembahan Untuknya, Ibu Kos

badannya yang sudah tua masih kuat melangkahkan kakinya ke lantai atas
orang lain tetap tidak tahu apa maunya, kupikir dia hanya ingin melihat anak-anaknya sudah bisa apakah mereka?
semakin hari semakin tua dan sepertinya ada yang sedang mengintai hidupnya, entah malaikat ataukah gejala alam yang lain
tak banyak orang mengharapkan dia tiada, memang karena dia itu baik hati
pendengarannya tak lagi sekuat waktu mudanya
kami seperti berbicara pada tembok yang hidup ketika akan bercakap dengannya
satu yang masih menjadi alasan selama ini adalah; dia masih ingin melihat cucunya tumbuh menjadi orang yang berguna dan membahagiakannya
satu yang terlintas, Tuhan, semoga Engkau melindungi orang ini dalam perlindungan-Mu
di sisi-Mu.

AMIN.

Kamis, 30 Desember 2010

PEMBERITAHUAN

PEMBERITAHUAN;


BUAT TEMAN-TEMAN YANG MAU ISENG-ISENG DI GAMBAR, HUBUNGI SAYA. SAYA SEDANG MINIM INSPIRASI UNTUK MEMBUAT SESUATU YANG BARU, MELUKIS WAJAH TERUTAMA.

*kali-kali aja ada yang baca dan ada yang tertarik.


SEMUA, TERIMA KASIH, SAYA TUNGGU.