*kali-kali aja ada yang baca dan ada yang tertarik.
SEMUA, TERIMA KASIH, SAYA TUNGGU.
"kuingin kau tahu, sukamu, sukaku suka kita bersama, dukamu dukaku semua dibagi rata"
Sebagian dari mimpi saya hanyalah untuk berjalan-jalan. mungkin kegiatan ini hanya untuk sementara, mengisi jadwal hidup saya yang begitu labil dan bodoh. suatu hari saya melihat di internet-mbah Google-yang selalu memberikan pedoman hidup tentang apapun itu di dunia, tsah. saya mencari gambar statue of Abraham Lincoln di Washington DC, AS. dan ternyata itu sangat menggugah saya untuk bermimpi segera kesana. bukannya tidak mungkin tapi suatu hari saya pasti kesana.*catatan untuk sekedar iseng
Kalau kita mengkhayal tentang apapun di dunia ini tentu kita akan memikirkan khayalan itu dan memimpikan kapan hal itu akan terjadi. Mengkhayal itu mudah sekali. Cukup pejamkan mata kita, berpikir, kemudian secara tidak sadar otak kita sudah melakukan proses mengkhayal itu sendiri. Sebuah pengantar sebelum mengkhayal adalah kunci kesuksesan kita mengkhayal. Sifatnya yang argumentatif, persuasif dan pengandaian itulah yang memicu otak untuk segera mengkhayal. Saya pikir mengkhayal itu nikmat dan tiada duanya.
Kerap kali ketika mengkhayal, perasaan kita sering terbawa dan berharap semua akan menjadi kenyataan. Padahal itu hanyalah angan-angan saja yang membelenggu kinerja otak agar bagaimana itu semua tervisualisasikan ke dalam realita kehidupan. Hati seakan ikut hanyut di dalam khayal kita. Peristiwa ini memang terjadi di bawah alam sadar kita, namun semua terjadi atas perintah otak kita. Mungkin penggambaran yang saya ajukan kurang mendetil, tapi marilah kita mengkhayal.
Ritus mengkhayal adalah kebiasaan saya membayangi sesuatu yang nampaknya asyik, indah dan enak untuk dilakukan. Sudah sejak lama saya mengkhayalkan ini-itu. Otak saya seperti telah di set begitu untuk saya terus berangan-angan. Meskipun keseringan ini memberikan dampak yang buruk bagi kelangsungan kinerja otak, membayangi sesuatu adalah hal lumrah yang gratis dan sangat mudah dilakukan manusia. Toh kita dapat dengan mudah memberikan perintah otak untuk berkhayal. Meskipun kalimat ini diulang berulang kali, inti dari tulisan ini adalah ajakan untuk kita berkhayal, membayangi sesuatu yang positif yang memberikan efek sinkronisasi otak yang lebih baik. Menyeimbangkan pola pikir agar tidak stress itu baik untuk kehidupan. So, berkhayallah selagi masih muda...
Yogyakarta, 8 Juni 2010
*refleksi menghadapi siang yang panas dan jemu
Udara siang menuju sore tadi itu cukup panas di Yogyakarta. Tiap kali siang datang dan sendirian, saya melihat ke arah jendela. Panas di luar kamar saya terasa hingga ke dalam kamar. Kipas angin tetap menyala, sunyi, tenang, hanya ada orang berjualan saja yang berteriak menjajakan dagangannya mengelilingi kompleks. Seorang teman pun merasa kepanasan dan memilih keluar untuk berjalan-jalan sore katanya. Saya sendiri lebih memilih menikmati sendiri di kamar saya dengan memandang jendela keluar dari tempat tidur. Saya hanya dapat berkata “ahh, nikmatnya suasana seperti ini”. Lantas tak ada orang yang mengusik ketenangan seperti ini.
Masih panjangkah siang itu? Ternyata tidak begitu, suasana semakin ramai, tidak seperti jam 2 atau jam 3. Banyak orang memilih untuk berdiam ditempatnya ketimbang keluar untuk bersenang-senang kecuali yang bekerja atau kuliah. Tetanggga-tetangga terlihat masih tutupan pintu rumahnya, tak ada yang terlihat keluar. Entah takut kepanasan atau apa. Aku tidak habis pikir suasana siang saat libur itu asyik dan terasa bersahabat sekali. Saya senang memaknai siang seperti ini. Sebenarnya tidak hanya siang, waktu hujan pun lebih saya senangi ketimbang siang.
Alasan saya memaknai indahnya siang adalah, pertama siang itu panas dan akan teduh jika kita berlindung di bawah pohon atau kamar kita, dengan catatan tidak boleh mengeluh apakah kepanasan atau berkeringat. Kebanyakan orang mengeluh saja waktu siang, jika panas sekali orang malah mencari tempat ber-AC untuk sejenak istirahat, atau bahkan tidur. Di banyak tempat yang rindang pohonnya malah banyak sekali pedagang berteduh menghadapi sang matahari, pengemis yang tetap meminta-minta, masyarakat yang lalu-lalang mengejar bus di trotoar jalan, pemulung yang tertidur kelelahan dan lain sebagainya. Sebagian ada yang bercengkrama di taman kota. Ada lagi yang menikmati suasana kota untuk mengunjungi tempat bersejarah dan begitu seterusnya. Saya tadi hanya bernaung di dalam kamar menikmati pemandangan yang sayu berbaur dengan cahaya matahari di luar sana. Bayangan pohon di tanah, gemercik suara air, dan teriakan-teriakan pedagang yang menjajakan dagangannya menggairahkan suasana siang yang panas. Itulah yang disebut siang, unik dan waktu yang tepat untuk malas.
Alasan saya yang kedua adalah ketika siang, orang itu cenderung malas untuk kemana-mana sekalipun meninggalkan rumahnya. Mobil-mobil yang mondar-madir di jalan kota seperti menyemangati panasnya kota dengan polusi dari gas buangnya yang kotor. Siang bagi sebagian orang itu kotor dan tidak perlu disenangi, tidak seperti saya menyukai siang jika momennya tepat. Memaknai siang akan terasa indah jika kita tertidur dan atau melihat televisi dengan pintu-pintu yang terbuka mengharapkan angin berhembus masuk ke dalam. Itu semua jarang terjadi dan hanya halusinasi yang mengikuti dibelakangnya. Bagi anak kos seperti saya mungkin hanya membayangi udara sejuk yang datang menghampiri, lama dan dingin menyelimuti badan ketika lelah berkeringat. Fatamorgana pun mewarnai indahnya siang, hanya sebatas khayal saja melihat jalan yang kering sekali tiba-tiba basah dan ada air yang menggenang. Tetapi siang tadi tidak seperti itu, hanya mendung yang menyelimuti jadi tidak terasa pana sekali.
Ketiga, alasan saya adalah ketika siang panas, obat penenang masyarakat adalah makan siang antara jam 12 hingga jam 3. Saya menikmati betul momen seperti itu. Siang yang panas ditemani hidangan tropis seperti soto ayam dengan nasi ditambah peresan jeruk nipis, nasi dengan lauk penyetan yang enak sekali, makanan berbumbu pedas seperti rujak, jus buah yang dingin yang menyegarkan tenggorokan, atau sebatang eskrim untuk anak kecil coklat atau strawberry tidak masalah bagi mereka. Yang saya tahu, saya akan terhanyut menikmati siang di temani sebatang coklat yang saya suka, Van Houtten dan segelas es teh sambil duduk di kursi melihat panasnya jalan yang terasa membara membakar kulit kita. Orang-orang di luar mungkin sedang menikmati santap siangnya dengan koleganya, pacarnya, kerabatnya entah temannya atau yang ada didekatnya.
Mungkin banyak orang yang tidak begitu suka dengan siang hari. Acara di televisi juga mulai membosankan untuk dilihat begitu juga siaran radio. Kala siang banyak yang bertelanjang dada kepanasan sambil mengipasi dirinya dan tak jauh dari es yang akan mendinginkan tubuh mereka. Orang yang berhamburan di jalan raya menanti busnya berteduh seakan tidak mau terkena sinar matahari setitik pun. Para pedagang yang lelah berkeliling menjajakan dagangannya ada yang tertidur pulas di dekat gerobaknya, ada pula yang tetap semangat mengejar pelanggannya. Anak-anak SD pulang dari sekolahnya sambil berlarian kelapangan membuat kegaduhan dikala orang sedang mencba tertidur. Mahasiswa pun begitu, ada yang pulang ke rumanya, kosnya menaiki sepeda, motor, dan mobil juga bus yang bergerak cepat sekali.
Hah, memang nikmat sekali siang hari, tak sedikit juga yang menyenanginya. Udara panas yang membuat beberapa orang emosi dan stress di jalan, di tempat umum, kecuali di Mall besar mungkin. Di sana hanya ada kesenangan semu menjauh dari siang dan membuat buta mata mereka dengan kegembiraan. Bukan iri, saya pun pernah begitu, tapi tidakkah kita sadari bahwa siang hari adalah bagian dari waktu yang coba kita lewati dengan penuh semangat mengharap semua cepat berakhir. Ketika sore datang menjemput siang, semua kegembiraan serta kegelisahan di siang hari seperti lenyap tak bersisa. Capek yang datang menaungi badan seolah terobati oleh malam yang sudah memanggil. Tapi siang hari adalah waktu ternikmat dalam kacamata saya. Saya hanya melihat sejumlah fenomena sosial yang unik dan realitas yang terkadang mengesalkan. Itulah siang hari.
Yogyakarta, 3 Juni 2010
*bukan untuk curhat, tetapi untuk refleksi lagi...
Hari ini untuk sebuah cerita baru, saya mendedikasikan cerita ini untuk insan muda berbakat yang tak kenal lelah siapapun itu orangnya. Anak muda berbakat yang penuh dengan ide-ide cemerlang telah membangun kriteria sosial masyarakat Indonesia aktif. Saya baru saja menonton film bertajuk “Janji Joni” yang diperankan Nicholas Saputra yang telah membangkitkan keterpurukan saya menghadapi hari, terutama hari ini. Satu hari ini saya hanya berkeluh kesal pada diri saya sendiri tanpa menyadari banyak sekali kesempatan yang saya lewatkan—lagi—apapun itu bentuknya.
Film itu mengisahkan kesibukan seorang Joni sang pengantar film yang berputar setiap hari mengantarkan film-film yang akan diputar di bioskop di ibu kota. Yang mengesankan adalah jalan ceritanya yang dibuat dengan sudut pandang yang tak pernah orang lain menduganya. Si pengantar film itu kian sibuk dengan setiap jamnya mengantar filmnya. Jika dilihat dari kacamata awam pekerjaan itu memang cukup merepotkan dan tak banyak yang menyukai hal itu. Soundtrack pengisi film itu pun mengesankan, membuat orang yang menontonnya akan terpacu menyaksikannya. Ini bukan “curhat” dan bukan juga kritik, ini hanyalah sepintas penilaian yang saya anggap sangat baik sekali bahwa bekerja dengan jujur itu adalah hal yang baik.
Banyak orang yang cenderung menggunakan cara kotor untuk menyelesaikan pekerjaannya, tetapi saya yakin tidak semuanya.
Kemasan dari cerita yang disuguhkan adalah cerita yang jarang sekali diperlihatkan atau bahkan diperhatikan orang. Tidak banyak yang menduga bahwa cerita yang berunsur fiksi dan bergenre remaja ini cukup menyita perhatian pemirsanya. Toh film Indonesia sekelas ini sangat jarang dibuat. Saya bisa mengatakan bahwa ini adalah film berkelas dan salah satu yang terbaik yang diproduksi oleh anak bangsa. Kefiktifan cerita jelas banyak sekali. “jelaslah, ini ‘kan cuma sekedar film,” kata orang-orang. Tetapi belajar menikmati dan menilai film itu susah-susah-gampang.
Cerita yang dibuat sederhana ini mengena sekali pada penontonnya. Dialog yang lugas dan tidak bertele-tele juga baik sekali serta yang paling penting mudah dicerna. Yang ingin saya tegaskan sebenarnya adalah cerita yang saya kaitakan jika itu bukanlah sebuah karya fiksi melainkan kehidupan nyata. Apa yang terjadi? Jelaslah akan jarang terjadi, mengapa? Ya, karena latar belakang kehidupan praktis masyarakat modern seperti sekarang yang cenderung apatis, acuh tak acuh melihat lingkungan sekitar menjadi diskursus yang patut diselami.
Pola masyarakat yang mulai menyingkirkan kearifan lokal seperti saling sapa, menghormati orang lain, apatis tadi, dan lain sebagainya adalah contohnya. Modernitas itu bisa dicerap jika penyaringan terjadi sebelumnya. Banyak juga yang menilai jujur untuk suatu pekerjaan adalah hal yang harus diacungi jempol menandakan kebaikan darinya. Maka saya optimis, perfilman Indonesia bisa bangkit jika keefektifan dapur film dapat menyajikan sajian berkualitas dan tidak sekedar mencari eksistensi atas kuantitas yang subjektif.
Dari kacamata saya, saya hanya dapat menilai demikian adanya. Ini cuma kegiatan iseng mengisi waktu luang dan berharap bahwa tidak ada pihak yang tersinggung menyikapinya. Karena saya hanya terkesan pada sikap si Joni itu sebegitu jujurnya dia menghadapi waktu, bergelut dengan lingkungan, terjun ke masyarakat luas, dan yang paling penting bagi saya berusaha menepati waktu. Itulah alasan saya mengapa saya sangat terkesan sekali dengan film yang berhubungan dengan waktu. Karena waktu adalah dimensi untuk kita melihat batasan kita, batasan yang dibuat oleh Tuhan untuk manusia menyadari betapa pentingnya kehidupan dan banyak yang terbuang percuma didalamnya.
Kepada para pembaca, terima kasih telah meluangkan waktu kalian membaca sampah ini. Kurang lebihnya mohon maaf, jelas sekali, ini hanya sebatas bualan belaka. Sekali lagi terima kasih.