Cari Blog Ini

Laman

Minggu, 06 Juni 2010

Cerita Bodoh

Yogyakarta, 2 Juni 2010

*Cerita berbelit yang tak perlu diragukan untuk tidak dibaca

Tidak bisa disembunyikan lagi dari alam pikirku, melihat dia hanya bisa berjalan mengitari sekelumit persoalan. Mendengar petir saja takut apalagi menderita karena sakit? Di banyak tempat yang dia kunjungi, aku semakin menyadari bahwa dia sudah pantas untuknya. Aku yakin dia cuma bisa menunggu keadaan agar lebih baik. Bayangan-bayangan antah berantah yang berputar di kepalanya semakin menggumpal dan tak terbendung lagi. Ingin sekali melihat oran itu menyapanya apapun keadaannya. Dia itu bohong ketika bicara. Dia itu tidak tahu sekali aku rindu padanya. Dia dan dirinya sama sekali tidak pernah memimpikan satu sama lain. Dia, kata temannya, seperti seonggok cerita yang basi jika dibacakan di depan umum. Pemirsanya akan muntah melihatnya. Pengiring musiknya akan lari dan tidak akan meminta imbalan bahkan sepersen pun darinya. Mengapa? Dia itu bodoh dan tidak resposif lagi jujur.
Setelah dirunut kebelakang, dia punya segenap problematika yang sepele yang tidak bisa dipecahkan sendiri. Apapun itu yang berkaitan dengan personalitas seseorang. Bahkan dirinya tidak gentle menghadapi apapun resikonya. Dia itu maniak gila yang membodohi dirinya sendiri. Suatu ketika dia mendapat cekokan air busuk yang entah apa rasanya. Ditenggaklah minuman itu hingga tak bersisa. Dia hanya berharap jika suatu hari keajaiban akan datang dan semua akan berjalan sesuai rencana.

Istirahat olehnya adalah hal tabu yang tidak perlu dilakukan jika bukan jamnya. Yang aku sadari dia ini seorang pekerja yang jujur tetapi selalu salah langkah menghadapi situasi kondisi yang berjalan mengiringinya. Melihat matahari diatas kepalanya bukan keanehan, padahal itu panas sekali. Menangis memang bukan kebiasaannya, tetapi sesekali menangis mengadapi keadaan tersulit adalah kepuasan batin olehnya. Kasihan sekali melihatnya menghadapi hidupnya yang sepi. Dia selalu membayangkan sesuatu bak kaum imajiner yang tak kunjung mendapatkan impiannya. Meskipun begitu dia adalah seorang yang jujur. Sulit rasanya menerima apa adanya kehidupan seseorang. Walaupun susah dia berusaha sesekali tersenyum untuk memuaskan dirinya dan menurunkan kadar emosinya. Dia itu orang aneh yang tidak mengerti zamannya. Semua sudah berubah. Padahal jika dia sabar sedikit saja mengahdapi hidupnya ini, dia akan mendapatkan yang terbaik.

“Aku jadi bercermin pada kisah orang aneh ini, mengapa dia bisa begitu tabah menghadapi cobaannya sementara aku tidak?”

Aku mencoba membayangkan lagi dalam-dalam orang ini. Dia itu siapa? Berkacalah dia, suatu ketika di siang bolong nan panas. Dia berkata “hei lihat dirimu, kamu bisa menjadi dirimu sendiri jika kamu mengikuti kata hatimu sendiri!”. “oke,” lanjutnya, dia kembali memejamkan matanya dan mendengar musik sambil menghisap sebatang rokok lagi. Jalannya tidak begitu bagus memang, tapi dia senang berbagi dengan orang lain. Dia setia kawan dan penyayang. Dia sayang dengan sema orang yang sayang dengannya. Pola hidupnya memburuk setelah sekian kali cintanya gagal. Ditelanlah obat tidurnya jika dia tidak bisa tertidur. Dia itu dirinya yang hilang arah, tanpa tujuan yang jelas.

Jujur aku sedikit iba padanya. Dia butuh belaian dari orang lain. Jantungnya yang kurasakan detaknya bedtak kencang tiap kali dia berjumpa wanita yang dia idamkan. Namun itu hanya mimpi baginya dan tak juga dia bertindak. Aku tahu dia pecinta yang tak kenal lelah. Tapi dia itu bodoh, tidak kembali menengok kebelakang dan terus menengadah keatas mengharapkan keajaiban yang nihil. Kali ini jika dia menoleh kebelakang, dia akan mendapatkan kesialan terbesar dalam hidupnya. Apa sebabnya? Dia itu selalu berkutat pada kegelisahannya melihat zamannya yang telah berubah. Umurnya yang bertambah tapi lambat sekali dia menerima keadaan yang dibentuk oleh lingkungannya. Dia itu tidak bodoh, kutarik ungkapanku diatas tadi, dia tidak apapun itu yang buruk, dia hanya malu. Malu sekali menerima keadaannya. Bergelut dengan waktu yang terbuang percuma adalah kenikmatan baginya. Pekerjaannya tak pernah selesai sekalipun dia sedang tidak melakukan apa-apa.

Bagaimana orang ini bisa hidup dan tetap berpendirian pada pendiriannya seperti itu? Aku tak bisa berbuat apapun, dia itu temanku dalam khayalku juga. Dia menceritakan kisah orang lain yang aku ceritakan kembali lewat tulisan ini. Tidak membanggakan diri bahwa dia adalah pecundang, pengecut dan brutal. Aku berjanji tidak akan berkata bodoh lagi untuknya. Karena tak seorang pun di dunia in pintar. Tambahku, dia itu malah sebaliknya dan cekatan menghadapi zaman. Tidak banyak mengeluh dan sabar. Bersyukur, syukur yang dia ucapkan pada Tuhannya adalah kebiasaan yang sering bolong-bolong. Dia sering beharap bahwa hidupnya akan berubah secepatnya dan dia tidak lagi menderita seperti ini.

“Untuk kota Yogyakarta, tempatku menetap sementara, kutulis tulisan ini sebagai sarana refleksiku menghadapi hariku yang rumit seperti ‘dirinya’.”

1 komentar: