*refleksi menghadapi siang yang panas dan jemu
Udara siang menuju sore tadi itu cukup panas di Yogyakarta. Tiap kali siang datang dan sendirian, saya melihat ke arah jendela. Panas di luar kamar saya terasa hingga ke dalam kamar. Kipas angin tetap menyala, sunyi, tenang, hanya ada orang berjualan saja yang berteriak menjajakan dagangannya mengelilingi kompleks. Seorang teman pun merasa kepanasan dan memilih keluar untuk berjalan-jalan sore katanya. Saya sendiri lebih memilih menikmati sendiri di kamar saya dengan memandang jendela keluar dari tempat tidur. Saya hanya dapat berkata “ahh, nikmatnya suasana seperti ini”. Lantas tak ada orang yang mengusik ketenangan seperti ini.
Masih panjangkah siang itu? Ternyata tidak begitu, suasana semakin ramai, tidak seperti jam 2 atau jam 3. Banyak orang memilih untuk berdiam ditempatnya ketimbang keluar untuk bersenang-senang kecuali yang bekerja atau kuliah. Tetanggga-tetangga terlihat masih tutupan pintu rumahnya, tak ada yang terlihat keluar. Entah takut kepanasan atau apa. Aku tidak habis pikir suasana siang saat libur itu asyik dan terasa bersahabat sekali. Saya senang memaknai siang seperti ini. Sebenarnya tidak hanya siang, waktu hujan pun lebih saya senangi ketimbang siang.
Alasan saya memaknai indahnya siang adalah, pertama siang itu panas dan akan teduh jika kita berlindung di bawah pohon atau kamar kita, dengan catatan tidak boleh mengeluh apakah kepanasan atau berkeringat. Kebanyakan orang mengeluh saja waktu siang, jika panas sekali orang malah mencari tempat ber-AC untuk sejenak istirahat, atau bahkan tidur. Di banyak tempat yang rindang pohonnya malah banyak sekali pedagang berteduh menghadapi sang matahari, pengemis yang tetap meminta-minta, masyarakat yang lalu-lalang mengejar bus di trotoar jalan, pemulung yang tertidur kelelahan dan lain sebagainya. Sebagian ada yang bercengkrama di taman kota. Ada lagi yang menikmati suasana kota untuk mengunjungi tempat bersejarah dan begitu seterusnya. Saya tadi hanya bernaung di dalam kamar menikmati pemandangan yang sayu berbaur dengan cahaya matahari di luar sana. Bayangan pohon di tanah, gemercik suara air, dan teriakan-teriakan pedagang yang menjajakan dagangannya menggairahkan suasana siang yang panas. Itulah yang disebut siang, unik dan waktu yang tepat untuk malas.
Alasan saya yang kedua adalah ketika siang, orang itu cenderung malas untuk kemana-mana sekalipun meninggalkan rumahnya. Mobil-mobil yang mondar-madir di jalan kota seperti menyemangati panasnya kota dengan polusi dari gas buangnya yang kotor. Siang bagi sebagian orang itu kotor dan tidak perlu disenangi, tidak seperti saya menyukai siang jika momennya tepat. Memaknai siang akan terasa indah jika kita tertidur dan atau melihat televisi dengan pintu-pintu yang terbuka mengharapkan angin berhembus masuk ke dalam. Itu semua jarang terjadi dan hanya halusinasi yang mengikuti dibelakangnya. Bagi anak kos seperti saya mungkin hanya membayangi udara sejuk yang datang menghampiri, lama dan dingin menyelimuti badan ketika lelah berkeringat. Fatamorgana pun mewarnai indahnya siang, hanya sebatas khayal saja melihat jalan yang kering sekali tiba-tiba basah dan ada air yang menggenang. Tetapi siang tadi tidak seperti itu, hanya mendung yang menyelimuti jadi tidak terasa pana sekali.
Ketiga, alasan saya adalah ketika siang panas, obat penenang masyarakat adalah makan siang antara jam 12 hingga jam 3. Saya menikmati betul momen seperti itu. Siang yang panas ditemani hidangan tropis seperti soto ayam dengan nasi ditambah peresan jeruk nipis, nasi dengan lauk penyetan yang enak sekali, makanan berbumbu pedas seperti rujak, jus buah yang dingin yang menyegarkan tenggorokan, atau sebatang eskrim untuk anak kecil coklat atau strawberry tidak masalah bagi mereka. Yang saya tahu, saya akan terhanyut menikmati siang di temani sebatang coklat yang saya suka, Van Houtten dan segelas es teh sambil duduk di kursi melihat panasnya jalan yang terasa membara membakar kulit kita. Orang-orang di luar mungkin sedang menikmati santap siangnya dengan koleganya, pacarnya, kerabatnya entah temannya atau yang ada didekatnya.
Mungkin banyak orang yang tidak begitu suka dengan siang hari. Acara di televisi juga mulai membosankan untuk dilihat begitu juga siaran radio. Kala siang banyak yang bertelanjang dada kepanasan sambil mengipasi dirinya dan tak jauh dari es yang akan mendinginkan tubuh mereka. Orang yang berhamburan di jalan raya menanti busnya berteduh seakan tidak mau terkena sinar matahari setitik pun. Para pedagang yang lelah berkeliling menjajakan dagangannya ada yang tertidur pulas di dekat gerobaknya, ada pula yang tetap semangat mengejar pelanggannya. Anak-anak SD pulang dari sekolahnya sambil berlarian kelapangan membuat kegaduhan dikala orang sedang mencba tertidur. Mahasiswa pun begitu, ada yang pulang ke rumanya, kosnya menaiki sepeda, motor, dan mobil juga bus yang bergerak cepat sekali.
Hah, memang nikmat sekali siang hari, tak sedikit juga yang menyenanginya. Udara panas yang membuat beberapa orang emosi dan stress di jalan, di tempat umum, kecuali di Mall besar mungkin. Di sana hanya ada kesenangan semu menjauh dari siang dan membuat buta mata mereka dengan kegembiraan. Bukan iri, saya pun pernah begitu, tapi tidakkah kita sadari bahwa siang hari adalah bagian dari waktu yang coba kita lewati dengan penuh semangat mengharap semua cepat berakhir. Ketika sore datang menjemput siang, semua kegembiraan serta kegelisahan di siang hari seperti lenyap tak bersisa. Capek yang datang menaungi badan seolah terobati oleh malam yang sudah memanggil. Tapi siang hari adalah waktu ternikmat dalam kacamata saya. Saya hanya melihat sejumlah fenomena sosial yang unik dan realitas yang terkadang mengesalkan. Itulah siang hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar