Cari Blog Ini

Laman

Minggu, 06 Juni 2010

Untuk Sebuah Cerita : Janji Joni

Yogyakarta, 3 Juni 2010

*bukan untuk curhat, tetapi untuk refleksi lagi...

Hari ini untuk sebuah cerita baru, saya mendedikasikan cerita ini untuk insan muda berbakat yang tak kenal lelah siapapun itu orangnya. Anak muda berbakat yang penuh dengan ide-ide cemerlang telah membangun kriteria sosial masyarakat Indonesia aktif. Saya baru saja menonton film bertajuk “Janji Joni” yang diperankan Nicholas Saputra yang telah membangkitkan keterpurukan saya menghadapi hari, terutama hari ini. Satu hari ini saya hanya berkeluh kesal pada diri saya sendiri tanpa menyadari banyak sekali kesempatan yang saya lewatkanlagiapapun itu bentuknya.

Film itu mengisahkan kesibukan seorang Joni sang pengantar film yang berputar setiap hari mengantarkan film-film yang akan diputar di bioskop di ibu kota. Yang mengesankan adalah jalan ceritanya yang dibuat dengan sudut pandang yang tak pernah orang lain menduganya. Si pengantar film itu kian sibuk dengan setiap jamnya mengantar filmnya. Jika dilihat dari kacamata awam pekerjaan itu memang cukup merepotkan dan tak banyak yang menyukai hal itu. Soundtrack pengisi film itu pun mengesankan, membuat orang yang menontonnya akan terpacu menyaksikannya. Ini bukan “curhat” dan bukan juga kritik, ini hanyalah sepintas penilaian yang saya anggap sangat baik sekali bahwa bekerja dengan jujur itu adalah hal yang baik.

Banyak orang yang cenderung menggunakan cara kotor untuk menyelesaikan pekerjaannya, tetapi saya yakin tidak semuanya.

Kemasan dari cerita yang disuguhkan adalah cerita yang jarang sekali diperlihatkan atau bahkan diperhatikan orang. Tidak banyak yang menduga bahwa cerita yang berunsur fiksi dan bergenre remaja ini cukup menyita perhatian pemirsanya. Toh film Indonesia sekelas ini sangat jarang dibuat. Saya bisa mengatakan bahwa ini adalah film berkelas dan salah satu yang terbaik yang diproduksi oleh anak bangsa. Kefiktifan cerita jelas banyak sekali. “jelaslah, ini ‘kan cuma sekedar film,” kata orang-orang. Tetapi belajar menikmati dan menilai film itu susah-susah-gampang.

Cerita yang dibuat sederhana ini mengena sekali pada penontonnya. Dialog yang lugas dan tidak bertele-tele juga baik sekali serta yang paling penting mudah dicerna. Yang ingin saya tegaskan sebenarnya adalah cerita yang saya kaitakan jika itu bukanlah sebuah karya fiksi melainkan kehidupan nyata. Apa yang terjadi? Jelaslah akan jarang terjadi, mengapa? Ya, karena latar belakang kehidupan praktis masyarakat modern seperti sekarang yang cenderung apatis, acuh tak acuh melihat lingkungan sekitar menjadi diskursus yang patut diselami.

Pola masyarakat yang mulai menyingkirkan kearifan lokal seperti saling sapa, menghormati orang lain, apatis tadi, dan lain sebagainya adalah contohnya. Modernitas itu bisa dicerap jika penyaringan terjadi sebelumnya. Banyak juga yang menilai jujur untuk suatu pekerjaan adalah hal yang harus diacungi jempol menandakan kebaikan darinya. Maka saya optimis, perfilman Indonesia bisa bangkit jika keefektifan dapur film dapat menyajikan sajian berkualitas dan tidak sekedar mencari eksistensi atas kuantitas yang subjektif.

Dari kacamata saya, saya hanya dapat menilai demikian adanya. Ini cuma kegiatan iseng mengisi waktu luang dan berharap bahwa tidak ada pihak yang tersinggung menyikapinya. Karena saya hanya terkesan pada sikap si Joni itu sebegitu jujurnya dia menghadapi waktu, bergelut dengan lingkungan, terjun ke masyarakat luas, dan yang paling penting bagi saya berusaha menepati waktu. Itulah alasan saya mengapa saya sangat terkesan sekali dengan film yang berhubungan dengan waktu. Karena waktu adalah dimensi untuk kita melihat batasan kita, batasan yang dibuat oleh Tuhan untuk manusia menyadari betapa pentingnya kehidupan dan banyak yang terbuang percuma didalamnya.

Kepada para pembaca, terima kasih telah meluangkan waktu kalian membaca sampah ini. Kurang lebihnya mohon maaf, jelas sekali, ini hanya sebatas bualan belaka. Sekali lagi terima kasih.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar