Cari Blog Ini

Laman

Senin, 24 Mei 2010

Aku dan Selembar Semangat yang Pernah Hilang

Semester kali ini sudah mulai menampakkan akhir yang entah akan seperti apa jadinya. Aku masih saja merasa sepi di dalam keramaian yang ada. Aku selalu mengeluh, mengatasnamakan nafsu hanya untuk mengadu. Aku bingung dengan apa yang ada dalam diriku. Bagaimana bisa aku terus bergelut dalam rasa penat seperti ini. Apa yang mereka rasakan itu, senang, sedih, susah, apapun itu aku mencoba untuk berada di dalamnya. Aku mengusahakan agar paling tidak aku perlu merasakan ego sesaat yang dapat meledak kapanpun. Aku berkaca pada cermin yang tidak ajaib, memandang terus wajahku hingga bosan datang. Dan yang terjadi hanyalah kegiatan bercermin pada umumnya yang tidak sepenuhnya istimewa. Jelaslah, aku bukan seorang pengamat yang baik yang dapat mengamati diriku penuh.

Anggapan bahwa aku ‘pecundang’ adalah hal layak yang sering aku dengar. Wajarlah. Aku tidak pernah berpikir buruk tentang sesuatu yang kuanggap tidak penting. Bukan tidak memikirkan tetapi melupakannya. Aku anggap itu bualan dan aku terus menoleh keatas. Di atas sana, tempat aku menoleh, terdapat banyak bayangan impianku yang masih menjuntai kebawah. Tugasku adalah mewujudkannya. Bagaimana merealisasikan impian itu tergantung bagaimana juga kita memahami mimpi kita dengan mengaitkannya dengan kehidupan umum seperti biasanya. Mimpi itu tidak pernah akan jauh dari khayal tingkat tinggi yang sering kuukir dan kuukur. Yang kuukir adalah mimpi jauh keluar dari kehidupan yang “extraordinary” ini. Yang kuukur adalah jarakku dengan mimpi yang akan segera kuwujudkan itu.hahaha...

Aneh memang, tapi seperti inilah aku memaknai kehidupanku dengan banyak berpikir untuk hal sesepele apapun. Aku tidak bisa ‘santai’ seperti banyak yang orang bilang. Aku senang jika ada orang yang disekelilingku mencoba mendukungku dengan gagasan bodohku yang nihil. Tetapi disitu aku mencoba untuk menafsirkan bagaimana nihil itu hanyalah sebuah konsep yang belum berbuah.

Aku jadi semangat sekarang...

Ya, aku menyemangati hidupku dengan banyak bersyukur dan berdoa untuk kebaikan bersama. Setiap kali aku berdoa, aku tidak pernah melupakan mendoakan agar semua temanku menjadi orang yang baik untuk segala hal. Aku tidak membanggakan diri sendiri, tetapi tulus dari dalam hati adalah motivasi terbaik bagiku. Aku tulus dan ikhlas. Tetapi kadang itu cuma omong kosong. Dan aku berbalik pada kenyataan awal bahwa aku tidak tulus. Konsep ikhlas yang selama ini aku pelajari lewat kinerja otak sebetulnya sudah menjadi al wajar yang dapat aku jelaskan secara umum. IKHLAS itu berarti banyak sekali. Menurutku IKHLAS itu seperti suatu sikap yang menjunjung nilai sosial manusia. Berkaitan dengan kegiatan yang berbau sosial dan moralitas seseorang. Penympulan makna IKHLAS yang begitu luas ini aku singkat saja dengan hal itu agar menjadi panutan dalam tiap pekerjaanku. Tentu dengan selalu mengingat bahwa ada yang Maha Mencatat. Aku itu takut dengan Tuhanku, tidakkah kamu? Atas ketakutanku itu aku mengikhlaskan sesuatu, tetapi tidak semua. Aku takut sekali dengan yang ada di dunia ini menghilang. Aku takut dengan KUASA SANG PENCIPTA. Jujur sekali dari dalamhati aku takut!
Dari sini aku mulai belajar melihat keadaanku bahwa aku hanyalah seseorang yang sering membuat masalah dengan begitu saja lari dari masalahku. Kalau mau diberi contoh ya tentulah tidak aku bisa berikan satu per satu, karena sudah terlalu banyak dan memusingkan sekali memang ingatnku tidak begitu bagus, tetapi aku malu mengatakannya.

Sepertinya aku sudah harus mengakhiri masa-masa konyolku seperti sekarang ini. Detik ini. Aku berusaha membawa arus positif ke dalam tengkorakku yang berisikan otak yang dipenuhi pikiran sepele. Aku mengira bahwa pikiran sepele itu hanyalah kotoran yang harus disiram. Kotoran di otakku ini seperti plak yang menempel pada gigi kita. Aku pun mengalami kesulitan untuk membuangnya. Maka aku memerlukan seseorang untuk membantuku menghilangkan kotoran itu.

Aku malah tidak menemukan solusi lagi. Tetapi sekarang aku haruslah menjadi aku yang baru yang tidak lagi arogan dan egois. Mementingkan diri sendiri dan mengatasnamakan nafsu untuk mengadu. Aku bukan tidak bisa, tetapi aku bisa, hanya saja, aku lambat dan tidak bergerak secepat mungkin mengejar “bus” yang sudah berlari kencang. Pengandaian atas sesuatu buakn lagi hal konyol bagiku. Aku sudah cukup belajar dan harus menambah pelajaran lagi agar otakku memberikan sinyal positif bahwa aku bisa bertindak. Pemikiran lama harus aku instal ulang programnya agar semua terbarukan. Aku butuh ‘refreshing’ sejenak melepas penatku yang padat. Setelah itu, sejumlah gebrakan baru akan kuwujudkan. Dan aku tidak perlu lagi mengeluh dan menyesal. Aku akan berusaha untuk belajar memaknai makna hidup. Terima kasih teman-temanku!

1 komentar: