"kuingin kau tahu, sukamu, sukaku suka kita bersama, dukamu dukaku semua dibagi rata"
Minggu, 27 Februari 2011
Sabtu, 26 Februari 2011
Lanjutan si Cerita Panjang
Aku tak menyangka kamu harus begitu membenciku
Agak miris melihatmu penuh dendam seperti itu
Ada sesuatu yang manis yang harus kamu lihat sore ini
Kubelikan kamu sebatang permen coklat kesukaanmu
Harapanku; kamu tidak lagi bersedih dan lupakan kejadian itu
Harapanku; bahagia akan segera menghampirimu ketika kamu menggigitnya
Harapanku; kamu akan menjadi dewasa kembali setelah kau lumatkan makanan itu di lidahmu
Aku tak berharap banyak, segini saja sudah cukup menghiburku
Kamu yang kulihat sekarang adalah kamu yang lain
Bengis, brutal, busuk, brengsek
Tapi sadarilah, Tuhan pasti tahu kamu ingin apa
Dan langit akan menghantammu ketika mereka melihatku tergeletak
Tak bernyawa seperti pacarmu yang sekarang tinggal di dalam tanah itu
Membusuk bersama para hewan dan siksa yang menyiksanya
Dia itu menyakitimu dan kamu tak mau melepaskannya
Apakah itu caramu mengenangnya
Hanya dalam kesedihankah kamu harus memikulnya
Berbuat baikkah dia kepadamu?
Tidak ada yang lebih manis daripada dunia ini
Pahami baik-baik perkataannya
Kesenangan dunia akan tercabut setelah kamu menjadi dirinya
Mengingatnya Lagi
Keluar setelah matahari terbenam sore ini
Kamu sejenak melupakannya setelah kamu ingat kamu satu tahun yang lalu,
Melihatnya terbaring kaku di jalan ini
Kamu akan berusaha mengingat kepergiannya
Padahal dia tak sedang bersamamu
Aku hanyalah temanmu yang siap mengarungi deburan ombak laut tinggi
Cuma aku, sadarilah
Bersedihlah terus dengan caramu
Kalau obat yang kuberikan tadi tak mencerahkan wajahmu, buanglah
Kamu bisa membelinya sebanyak yang kamu mau
Kamu makan apapun yang kamu mau
Uangku tak banyak
Tak seperti pacarmu yang punya pohon uang di pekarangannya
Dijaga ketat oleh penjaga kuburan si kakek tuanya
Kuceritakan kronologi perlahan-lahan agar kamu mengingatnya lebih jauh
Aku terbiasa dengan marahmu yang membuatku memar-memar
Tapi kumohon kali ini untuk tidak marah kali ini
Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu, sesuatu yang biasa kamu lakukan di taman ini
Memandangi bunga-bunga layu yang basah terkena hujan
Coba pandangi dengan baik dan maknai dengan hatimu
Dia terbiasa menjadi pusat perhatian orang, indah dan menarik
Tapi kalau layu seperti itu akankah orang mau melihatnya?
Kau lakukan ini selama kau mengenalku
Hilang ditelan penyakitmu yang menghapus semua memori indahmu
Dan yang kutahu, tak heran, kamu menggila seperti ini
Bunga layu kau perhatikan saja bisa menghiburmu yang sedang jatuh dalam jurang
Lantas kamu memikirkannya mengapa begitu
Aku sudah lelah mengajakmu menjadi orang baik
Tapi kalau kau kutinggalkan akankah kamu menjadi lebih baik?
Tuhan yang tahu
Tamat Sudah
Setelah kubaca buku harianmu pagi ini
Kamu akan membunuh dirimu dalam ketenangan
Zat beracun nan mematikan telah kau dapatkan, telah kau siapkan
Menjelang ajal yang kau adakan sendiri meskipun belum waktumu untuk itu
Walaupun begitu, aku akan mencegahmu melakukan itu
Hiduplah dengan normal dan jalani hidup ini hingga tua nanti
Wajah cantikmu akan menjadi daya tarik bagi lelaki lain di dunia ini
Biar kutebak, pasti dia lelaki normal yang baru tumbuh dewasa
Atau lelaki hidung belang yang menghancurkanmu sampai kamu rapuh seperti ini?
Semoga saja tidak, karena aku takkan bisa mengisi harimu yang indah sampai tua nanti
Cerita hidupku sama sepertimu, cerita yang tak perlu banyak orang tahu
Cerita yang hanya akan membuatku larut dalam romantisme hidup
Kembali menjadi malas, tak bekerja dan tak tahu arah
BERSAMBUNG...
Senin, 21 Februari 2011
Sebuah Cerita Panjang
"sebuah cerita panjang yang hanya penulisnya saja yang tahu..."
Cerita Panjang
Aku menundukkan kepala seraya berkata “ah, sudahlah.”
Di hadapanku tadi ada tubuh seseorang yang kukenal terdiam kaku dan membisu
Dia tidak bernyawa lagi dan sepertinya memang telah mati
Tapi kurasakan jiwanya masih disekitar sini
Tak mau kusesali lagi, mungkin bukan aku yang melakukannya, aku yakin sekali itu
Kututup semua yang kutahu, tetapi tidak pada satu hal
Kamu.
Benci
Aku duduk termenung di sudut ruangan
Hanya ada aku, dia dan kursi empuk saja
Tembok yang mengelilingi hanya bisa melihat kita berdua yang terdiam sejak berjam-jam yang lalu
Diam yang sangat panjang dan melelahkan
Sungguh, ingin mati saja rasanya kalau begini
Kamu tak bicara sepatah kata juga dari tadi
Aku tak punya waktu yang banyak, tapi punya cinta
Meskipun bukan buat kamu saja, tapi orang lain
Aku tahu kamu ingin membuang semua yang ada di benakmu tentang rasamu itu
Tapi kamu, coba lihat, apa kamu tidak sadar atas perintahnya kemarin;
“jangan kau buat aku susah mati, ya.”
Kamu punya kebencian mendalam padaku
Lantas apakah aku harus ditahan disini bersama amarahmu yang besar itu?
Munafik, kamu sungguh munafik dan pengecut
Pikirku, kamu akan ambil pisau di ruangan sebelah dan akan kau robek perutku dan keluarkan isinya
Sudah kutunggu daritadi dan kau urunkan niatmu
Buat apa mendendam ketika kamu tidak melakukan suatu tindakan yang dapat melepaskannya
Yang membelenggu layaknya penyakit hati manusia
Ayolah, aku ini orang yang akan kaubunuh sekarang juga
Ambil pisau itu dan lakukan dengan perlahan sayang
Yang kuyakini itu tidak akan menyakitiku karena pasti kau lakukan dengan cinta
Kalau kau rasa percuma, ya tinggalkan saja
Dan hiduplah damai dengan ketenangan yang ditawarkan dunia busuk ini
Salahmu
Aku tahu, peristiwa itu bukan aku yang melakukannya
Kamu juga menyadarinya dan melihat dengan matamu sendiri
Sumpah pada Tuhan hanya menjadi bualan di matamu nantinya, bahkan setelah kukatakan padamu
Izinkan aku keluar dan lari sekencang-kencangnya kabur dari hadapanmu
Aku tiada kuasa untuk mematikannya jika harus bersaing dengannya
Pasti ada orang lain, orang yang bukan diriku
Menaruh kebencian padanya hingga berujung cerita panjang seperti ini
Kamu yang bersalah menelantarkan dia seperti gembel yang mengais makanan di bak sampah
Padahal bukan makanan, tetapi cintamu untuknya
Pahami itu sebelum kamu yang disalahkan orang nanti
Bersambung...
Jumat, 18 Februari 2011
Persembahan Untuknya, Ibu Kos
orang lain tetap tidak tahu apa maunya, kupikir dia hanya ingin melihat anak-anaknya sudah bisa apakah mereka?
semakin hari semakin tua dan sepertinya ada yang sedang mengintai hidupnya, entah malaikat ataukah gejala alam yang lain
tak banyak orang mengharapkan dia tiada, memang karena dia itu baik hati
pendengarannya tak lagi sekuat waktu mudanya
kami seperti berbicara pada tembok yang hidup ketika akan bercakap dengannya
satu yang masih menjadi alasan selama ini adalah; dia masih ingin melihat cucunya tumbuh menjadi orang yang berguna dan membahagiakannya
satu yang terlintas, Tuhan, semoga Engkau melindungi orang ini dalam perlindungan-Mu
di sisi-Mu.
AMIN.